Friday, November 19, 2021

“Anak merupakan cerminan orang tua” adalah benar adanya


    Terdapat teori sosialisasi yang menyatakan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi pertama dalam membentuk karakteristik seorang anak. Jadi, bisa dikatakan perilaku orang tua di rumah senantiasa diamati dan dicontoh oleh anak mereka yang kemudian membentuk suatu watak. Saat anak mereka sudah siap terjun ke masyarakat, watak tersebutlah yang diperlihatkan ke orang banyak. Teori ini oleh masyarakat Indonesia dikenal sebagai satu ujaran yang kerap ditemui, yaitu “Anak adalah cerminan dari orang tuanya.”

infoscreening.co


    “Anak adalah cerminan dari orang tuanya” kemudian dikemas sedemikian rupa oleh Racavana Films dan Humoria Films melalui film pendek berjudul “Anak Lanang” (2017). Tokoh empat anak SD pada film ini memvalidasi ujaran tersebut melalui cara mereka berinteraksi satu sama lain. Di sepanjang film, penonton akan disuguhkan berbagai obrolan sepulang sekolah khas anak SD. Obrolan yang ringan dan sederhana yang hanya sebatas PR, game, murid baru, tebak-tebakan, hingga tren terbaru. Walaupun ringan dan sederhana, obrolan serta interaksi di antara mereka inilah yang menjadi fokus utama dalam film Anak Lanang.


    Obrolan dan interaksi mereka menunjukkan watak masing-masing tokoh, yang secara tidak langsung menunjukkan watak orang tua mereka, khususnya ibu mereka. Sigit yang bersikap tenang dan sabar menghadapi dinamika selama sepanjang perjalanan pulang. Sikapnya ini ia contoh dari sang ibu. Walaupun scene Ibu Sigit hanya sebentar, tetapi terlihat jelas jika Ibunya berwatak tenang dan penyabar, “Enak ya jadi Sigit, Ibunya baik, ngga kaya ibuku,” ujar salah satu anak. 


    Berlanjut ke anak yang dipanggil Sul yang mengatakan ke teman-temannya kalau ibunya gemar menonton sinetron, “Keren tau Pak, daripada sinetron yang ditonton ibuku, lebih keren ini!”. Dari ibunya yang suka menonton sinetron inilah, Sul menjadi gemar mengadu domba teman-temannya agar bertengkar. Tidak bisa dipungkiri lagi bila sinetron kerap menayangkan adegan-adegan pertengkaran, dan siapa tahu ibu Sud terpengaruh salah satu adegannya━entah adegan bertengkar atau adu domba.


    Kedua anak terakhir merupakan klimaks dari film pendek ini. Selama perjalanan mereka hanya saling beradu mulut dengan melontarkan nama ibu mereka. Mungkin penonton akan menerka jika mereka memang merupakan teman dekat karena saling tahu nama ibu masing-masing. Ternyata Mereka berdua merupakan saudara satu bapak beda ibu alias bapak mereka melakukan poligami. 


    Melalui dua anak terakhir, yaitu Yudho dan anak yang tidak disebutkan namanya, sutradara merepresentasikan imbas dari seseorang yang berpoligami, yakni munculnya ketidakharmonisan rumah tangga. Seperti yang sudah disebutkan jika anak adalah cerminan orang tuanya, berarti dapat disimpulkan kalau kedua ibu mereka suka bertengkar dan meneriaki namanya masing-masing yang kemudian ditiru oleh anak-anak mereka. Alasan kedua ibu mereka bertengkar dikarenakan suami mereka tidak mampu menafkahi istri dan anaknya secara adil. Terlihat dari gaya Yudho dan ‘saudaranya’. Yudho terlihat sederhana dan apa adanya, sedangkan ‘saudaranya’ terlihat lebih tajir dengan memakai jam tangan, lalu handphone yang selalu digenggamnya, dan ia juga jajan saat sepulang sekolah━yang berarti jatah uang sakunya lebih banyak. Sang sutradara menyindir mereka yang berpoligami yang tidak mampu menafkahi mereka dengan baik. Masalah yang kerap dihadapi oleh suami yang memutuskan untuk berpoligami. 


    Terlepas dari pesan-pesan tersirat di sepanjang film, teknik one shot yang dipakai dalam film pendek ini juga patut diberi spotlight. Pasalnya, tidak mudah untuk melakukan teknik ini, terlebih lagi para tokohnya adalah anak-anak. Dengan menggunakan teknik one shot, penonton akan merasa masuk ke dalam film dan serasa ikut dalam percakapan para anak lanang. 


    Wahyu Agung Prasetyo selaku sutradara, sukses mengemas “Anak adalah cerminan dari orang tuanya” secara ringan, apik, menggelitik, sekaligus satire melalui perspektif anak-anak━yang jujur dan apa adanya. Film ini dapat menjadi refleksi bagi mereka yang akan menjadi orang tua agar lebih berhati-hati dan bersikap bijak dalam membangun rumah tangga mendidik anaknya kelak.


Monday, November 8, 2021

Mengarungi Bentang Oseania


Minggu ketiga di bulan Oktober, menghantarkanku dan teman-temanku pada sebuah pameran seni yang terletak di sebuah gedung di Kota Yogyakarta. Bulir-bulir hujan di siang kala itu tidak membuat kami dan para pengunjung berjalan mundur. Mereka berbaris rapi memasuki gedung bertingkat tiga yang berdampingan dengan pohon beringin besar nan rindang. Gedung yang dinamai Jogja National Museum ini menjadi tempat utama diselenggarakannya pameran seni ke 16 milik Yayasan Biennale Yogyakarta. Penyelenggaraan ini sekaligus mengakhiri seri perjalanan Biennale di bentang ekuator.

Merasakan dan memaknai apa yang dilalui oleh mereka di bentang Indonesia Timur hingga Oseania menjadi esensi utama dari diselenggarakannya pameran seni bertajuk Biennale Jogja XVI Equator #6 Indonesia with Oceania “Roots < > Routes”. Selama 39 hari, mereka mengajak para khalayak untuk mengarungi dalamnya bentang dunia bagian timur yang dianggap terbelakang oleh narasi kolonialisme Barat.

Memaknai apa yang mereka alami

Kolonialisme menjadi kunci dalam memahami setiap seni yang dipamerkan. Mengingat hubungan antara Indonesia dan negara-negara Oseania memang terlihat berbeda secara budaya dan geopolitik. Namun, perbedaan yang mereka rasakan kerap disatukan dengan ingatan kolektif akan penindasan dan penjajahan di masa lalu. Sayangnya, penindasan dan penjajahan yang mereka alami terus menghantui hingga hari ini, tentunya dengan bentuk yang berbeda, khususnya di Indonesia.

Rasa penjajahan dan penindasan dapat dipahami ketika kami melihat instalasi dalam ruangan pertama yang dipersembahkan oleh Udeido Collective. Mataku langsung tertuju kepada salah satu instalasi yang berkesan vulgar (gambar 1). 

Gambar 1

Instalasi dengan pahatan peluru berbentuk penis yang dikelilingi oleh pakaian dalam wanita serta tulisan berisi inisial nama-nama korban. Iya, nama-nama tersebut merupakan korban dari kekejian para lelaki berseragam yang turut serta menindas secara fisik maupun seksual para perempuan Papua. Mereka berperilaku selayaknya penjajah kala itu. “Padahal baru ruangan pertama, tapi pesannya sudah sekuat ini,” gumamku. Di ruangan pertama juga terdapat piramida (gambar 2) berisi tahapan kehidupan yang diyakini orang Papua yang puncaknya berada di Koreri (gambar 3). Tempat berkumpul para jiwa-jiwa, atau biasa disebut surga oleh kebanyakan orang. Koreri yang membuatku tidak henti-hentinya berdecak kagum.

Gambar 2

Gambar 3

       



Tidak jauh dari ruangan pertama, terdapat ruangan yang memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi dengan instalasi. Instalasi tersebut dipersembahkan oleh sebuah platform kolektif bernama A Pond is the Reverse of an Island. Melenceng dari tema, tetapi masih ada unsur kolonialisasi, instalasi ini menaikkan kesadaran pengunjung akan penggusuran yang kerap dialami oleh para warga di daerah Kalideres, Jakarta Barat. Tanah mereka ‘dijajah’ demi majunya pembangunan kota. Para pengunjung diperkenankan untuk mewarnai atau menulis surat untuk para pengungsi Kalideres (gambar 4 dan gambar 5).

Gambar 4

Gambar 5

Masih di lantai yang sama, mata kami tertuju pada salah satu ruangan yang memamerkan 6 lukisan. Lukisan tersebut dibuat oleh Antoine Pecquet, seorang diaspora Prancis yang tinggal di Kaledonia Baru. Melalui karyanya, ia mengajak para pengunjung untuk mengeksplorasi isu gender dan identitas. Selain itu, Pecquet juga memaparkan adanya hubungan yang kompleks antara keturunan Eropa dan penduduk asli pasca kolonialisasi.

Melihat ruang demi ruang, pesan demi pesan pun kian tersampaikan secara abstrak dan realistis. Akhirnya, kami pun menuju ke lantai dua. Terdapat salah satu instalasi oleh seniman asal Ambon, Ersal Ummamit yang mencuri perhatianku. Instalasi yang terlihat ‘berdarah’ (gambar 6) sekaligus memilukan bagi siapa pun yang melihat dan memaknainya. Pulau Banda yang terletak di timur Indonesia menyisakan kepedihan bagi penduduknya akan tragedi pembantaian. Hingga saat ini ‘pembantaian’ terus berlanjut dengan bentuk eksploitasi rempah di tanah Banda. Penjajahan rempah yang tak kapan berhenti.

Gambar 6

                Derap kakiku tiada henti menghampiri karya seni yang dipamerkan. Derap itu sampai pada bentangan kain dengan berbagai motif yang tidak biasa (gambar 7). Karya seni tersebut merupakan karya dari seorang seniman berdarah Belanda Mella Jaarsma dan seniman asal Papua, Agustinus Ongge. Mereka pun berkolaborasi untuk menunjukkan jika penjajahan bisa datang dari berbagai bentuk, salah satunya adalah pakaian. Pakaian modern dapat membuat pakaian tradisional terancam punah. Tidak hanya pakaiannya saja, namun seni dan keahlian untuk membuatnya akan ikut punah secara perlahan seiring berkurangnya minat akan pakaian tersebut.

Gambar 7

Setelah kakiku merasa puas setelah memasuki berbagai ruangan di lantai dua, akhirnya kami pun naik ke lantai tiga. Destinasi terakhir setelah meraungi setidaknya belasan karya seni dan pesan yang tertuang. Menuju ke lantai ketiga dengan karya seni yang tidak kalah atraktif. Salah satunya adalah bioskop mini yang menampilkan sebuah film bertema masa depan oleh Riar Rizaldi (gambar 8). Masa depan yang terlihat surealis, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi. Film yang menyentil kerakusan manusia dalam mengeksploitasi apa yang dikandung bumi, khususnya bagian timur bumi.

Gambar 8


Membawa ke sebuah pertemuan

Ada salah satu instalasi yang menarik perhatianku—atau mungkin semua orang yang berkunjung—yaitu, instalasi berupa mikrofon dan TV oleh Broken Pitch dan Juanga Culture (gambar 9). Instalasi yang ternyata akan membawa kami ke sebuah pertemuan.

Gambar 9

Instalasi tersebut mengajak para pengunjung untuk berkaraoke ria dengan lagu yang sudah disediakan. Lagu berjudul Boki Nukila vs. Kolonial yang bertemakan kolonialisasi. Boki Nukila sendiri merupakan seorang perempuan yang turut andil dalam melawan para kolonial di timur Indonesia, tepatnya di kepulauan Maluku. Tidak ingin melewatkan instalasi yang satu ini, kami memutuskan untuk menyanyikan lagu tersebut. Tanpa disadari, salah satu pelaku instalasi tersebut memperhatikan kami dan berterima kasih karena kami telah berinteraksi dengan instalasinya.

            Presiden Tidore, begitulah saat salah satu pelaku instalasi karaoke tersebut memperkenalkan dirinya. Pertemuan yang tidak sengaja yang membawa kami mengetahui lebih jauh mengenai timur Indonesia. Pertemuan yang membuat kami dapat melihat perspektif lain dari fenomena yang terjadi di timur Indonesia.

Kami pun kembali menyusuri karya seni, tetapi kali ini bersama Presiden Tidore. Presiden Tidore terlihat sangat antusias untuk membagikan apa yang dia ketahui mengenai karya-karya seni yang dipamerkan. Kami? Tentu saja kami juga senang sekaligus antusias mendengarkan penjelasannya karena dapat mengetahui yang tidak tertulis dalam deskripsi tiap karya seni.  Kami pun terus berbincang hingga tidak terasa waktu kunjungan sudah habis.

Mengakhiri perjalanan

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, hujan pun juga sudah reda. 2 hal yang menandakan bila kami harus segera pulang. Tanpa disadari 2 jam kian berlalu. 2 jam yang membuatku lebih terbuka mengenai mereka yang berada di daerah Timur Indonesia hingga Oseania yang jarang—bahkan tidak sama sekali—diekspos oleh media. Masalah-masalah kontemporer yang mereka alami disuarakan melalui karya seni yang dipamerkan. Masalah yang menurutku jarang diekspos ke media massa, sehingga kami yang berada di luar teritorial tersebut jadi tahu menahu soal masalah-masalah ini.

            Perjalanan kami mengarungi derasnya bentang Oseania harus diakhiri. Kami pun pulang dengan membawa perspektif baru akan kolonialisasi kontemporer yang masih menerjang para individu di Indonesia timur dan negara-negara di Samudra Pasifik. Perjalanan pilu yang membuat orang-orang tersadar jika kolonialisasi ini belum usai.