Terdapat teori sosialisasi yang menyatakan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi pertama dalam membentuk karakteristik seorang anak. Jadi, bisa dikatakan perilaku orang tua di rumah senantiasa diamati dan dicontoh oleh anak mereka yang kemudian membentuk suatu watak. Saat anak mereka sudah siap terjun ke masyarakat, watak tersebutlah yang diperlihatkan ke orang banyak. Teori ini oleh masyarakat Indonesia dikenal sebagai satu ujaran yang kerap ditemui, yaitu “Anak adalah cerminan dari orang tuanya.”
| infoscreening.co |
“Anak adalah cerminan dari orang tuanya” kemudian dikemas sedemikian rupa oleh Racavana Films dan Humoria Films melalui film pendek berjudul “Anak Lanang” (2017). Tokoh empat anak SD pada film ini memvalidasi ujaran tersebut melalui cara mereka berinteraksi satu sama lain. Di sepanjang film, penonton akan disuguhkan berbagai obrolan sepulang sekolah khas anak SD. Obrolan yang ringan dan sederhana yang hanya sebatas PR, game, murid baru, tebak-tebakan, hingga tren terbaru. Walaupun ringan dan sederhana, obrolan serta interaksi di antara mereka inilah yang menjadi fokus utama dalam film Anak Lanang.
Obrolan dan interaksi mereka menunjukkan watak masing-masing tokoh, yang secara tidak langsung menunjukkan watak orang tua mereka, khususnya ibu mereka. Sigit yang bersikap tenang dan sabar menghadapi dinamika selama sepanjang perjalanan pulang. Sikapnya ini ia contoh dari sang ibu. Walaupun scene Ibu Sigit hanya sebentar, tetapi terlihat jelas jika Ibunya berwatak tenang dan penyabar, “Enak ya jadi Sigit, Ibunya baik, ngga kaya ibuku,” ujar salah satu anak.
Berlanjut ke anak yang dipanggil Sul yang mengatakan ke teman-temannya kalau ibunya gemar menonton sinetron, “Keren tau Pak, daripada sinetron yang ditonton ibuku, lebih keren ini!”. Dari ibunya yang suka menonton sinetron inilah, Sul menjadi gemar mengadu domba teman-temannya agar bertengkar. Tidak bisa dipungkiri lagi bila sinetron kerap menayangkan adegan-adegan pertengkaran, dan siapa tahu ibu Sud terpengaruh salah satu adegannya━entah adegan bertengkar atau adu domba.
Kedua anak terakhir merupakan klimaks dari film pendek ini. Selama perjalanan mereka hanya saling beradu mulut dengan melontarkan nama ibu mereka. Mungkin penonton akan menerka jika mereka memang merupakan teman dekat karena saling tahu nama ibu masing-masing. Ternyata Mereka berdua merupakan saudara satu bapak beda ibu alias bapak mereka melakukan poligami.
Melalui dua anak terakhir, yaitu Yudho dan anak yang tidak disebutkan namanya, sutradara merepresentasikan imbas dari seseorang yang berpoligami, yakni munculnya ketidakharmonisan rumah tangga. Seperti yang sudah disebutkan jika anak adalah cerminan orang tuanya, berarti dapat disimpulkan kalau kedua ibu mereka suka bertengkar dan meneriaki namanya masing-masing yang kemudian ditiru oleh anak-anak mereka. Alasan kedua ibu mereka bertengkar dikarenakan suami mereka tidak mampu menafkahi istri dan anaknya secara adil. Terlihat dari gaya Yudho dan ‘saudaranya’. Yudho terlihat sederhana dan apa adanya, sedangkan ‘saudaranya’ terlihat lebih tajir dengan memakai jam tangan, lalu handphone yang selalu digenggamnya, dan ia juga jajan saat sepulang sekolah━yang berarti jatah uang sakunya lebih banyak. Sang sutradara menyindir mereka yang berpoligami yang tidak mampu menafkahi mereka dengan baik. Masalah yang kerap dihadapi oleh suami yang memutuskan untuk berpoligami.
Terlepas dari pesan-pesan tersirat di sepanjang film, teknik one shot yang dipakai dalam film pendek ini juga patut diberi spotlight. Pasalnya, tidak mudah untuk melakukan teknik ini, terlebih lagi para tokohnya adalah anak-anak. Dengan menggunakan teknik one shot, penonton akan merasa masuk ke dalam film dan serasa ikut dalam percakapan para anak lanang.
Wahyu Agung Prasetyo selaku sutradara, sukses mengemas “Anak adalah cerminan dari orang tuanya” secara ringan, apik, menggelitik, sekaligus satire melalui perspektif anak-anak━yang jujur dan apa adanya. Film ini dapat menjadi refleksi bagi mereka yang akan menjadi orang tua agar lebih berhati-hati dan bersikap bijak dalam membangun rumah tangga mendidik anaknya kelak.
