Minggu ketiga di bulan Oktober, menghantarkanku dan
teman-temanku pada sebuah pameran seni yang terletak di sebuah gedung di Kota
Yogyakarta. Bulir-bulir hujan di siang kala itu tidak membuat kami dan para
pengunjung berjalan mundur. Mereka berbaris rapi memasuki gedung bertingkat
tiga yang berdampingan dengan pohon beringin besar nan rindang. Gedung yang
dinamai Jogja National Museum ini menjadi tempat utama diselenggarakannya
pameran seni ke 16 milik Yayasan Biennale Yogyakarta. Penyelenggaraan ini sekaligus mengakhiri seri
perjalanan Biennale di bentang ekuator.
Merasakan dan memaknai apa yang dilalui oleh mereka di
bentang Indonesia Timur hingga Oseania menjadi esensi utama dari
diselenggarakannya pameran seni bertajuk Biennale Jogja XVI Equator #6
Indonesia with Oceania “Roots < > Routes”. Selama 39 hari, mereka
mengajak para khalayak untuk mengarungi dalamnya bentang dunia bagian timur
yang dianggap terbelakang oleh narasi kolonialisme Barat.
Memaknai apa yang mereka alami
Kolonialisme menjadi kunci dalam memahami setiap seni yang dipamerkan. Mengingat hubungan antara Indonesia dan negara-negara Oseania memang terlihat berbeda secara budaya dan geopolitik. Namun, perbedaan yang mereka rasakan kerap disatukan dengan ingatan kolektif akan penindasan dan penjajahan di masa lalu. Sayangnya, penindasan dan penjajahan yang mereka alami terus menghantui hingga hari ini, tentunya dengan bentuk yang berbeda, khususnya di Indonesia.
Rasa penjajahan dan penindasan dapat dipahami ketika kami melihat instalasi dalam ruangan pertama yang dipersembahkan oleh Udeido Collective. Mataku langsung tertuju kepada salah satu instalasi yang berkesan vulgar (gambar 1).
![]() |
| Gambar 1 |
Instalasi dengan pahatan peluru berbentuk penis yang dikelilingi oleh pakaian dalam wanita serta tulisan berisi inisial nama-nama korban. Iya, nama-nama tersebut merupakan korban dari kekejian para lelaki berseragam yang turut serta menindas secara fisik maupun seksual para perempuan Papua. Mereka berperilaku selayaknya penjajah kala itu. “Padahal baru ruangan pertama, tapi pesannya sudah sekuat ini,” gumamku. Di ruangan pertama juga terdapat piramida (gambar 2) berisi tahapan kehidupan yang diyakini orang Papua yang puncaknya berada di Koreri (gambar 3). Tempat berkumpul para jiwa-jiwa, atau biasa disebut surga oleh kebanyakan orang. Koreri yang membuatku tidak henti-hentinya berdecak kagum.
| Gambar 2 |
| Gambar 3 |
Tidak jauh dari ruangan pertama, terdapat ruangan yang
memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi dengan instalasi. Instalasi
tersebut dipersembahkan oleh sebuah platform kolektif bernama A Pond is the
Reverse of an Island. Melenceng dari tema, tetapi masih ada unsur kolonialisasi,
instalasi ini menaikkan kesadaran pengunjung akan penggusuran yang kerap dialami
oleh para warga di daerah Kalideres, Jakarta Barat. Tanah mereka ‘dijajah’ demi
majunya pembangunan kota. Para pengunjung diperkenankan untuk mewarnai atau
menulis surat untuk para pengungsi Kalideres (gambar 4 dan gambar 5).
| Gambar 4 |
| Gambar 5 |
Masih di lantai yang sama, mata kami tertuju pada salah satu ruangan yang memamerkan 6 lukisan. Lukisan tersebut dibuat oleh Antoine Pecquet, seorang diaspora Prancis yang tinggal di Kaledonia Baru. Melalui karyanya, ia mengajak para pengunjung untuk mengeksplorasi isu gender dan identitas. Selain itu, Pecquet juga memaparkan adanya hubungan yang kompleks antara keturunan Eropa dan penduduk asli pasca kolonialisasi.
Melihat ruang demi ruang, pesan demi pesan pun kian
tersampaikan secara abstrak dan realistis. Akhirnya, kami pun menuju ke lantai
dua. Terdapat salah satu instalasi oleh seniman asal Ambon, Ersal Ummamit yang
mencuri perhatianku. Instalasi yang terlihat ‘berdarah’ (gambar 6) sekaligus
memilukan bagi siapa pun yang melihat dan memaknainya. Pulau Banda yang
terletak di timur Indonesia menyisakan kepedihan bagi penduduknya akan tragedi
pembantaian. Hingga saat ini ‘pembantaian’ terus berlanjut dengan bentuk
eksploitasi rempah di tanah Banda. Penjajahan rempah yang tak kapan berhenti.
| Gambar 6 |
Derap kakiku tiada
henti menghampiri karya seni yang dipamerkan. Derap itu sampai pada bentangan
kain dengan berbagai motif yang tidak biasa (gambar 7). Karya seni tersebut merupakan
karya dari seorang seniman berdarah Belanda Mella Jaarsma dan seniman asal
Papua, Agustinus Ongge. Mereka pun berkolaborasi untuk menunjukkan jika penjajahan
bisa datang dari berbagai bentuk, salah satunya adalah pakaian. Pakaian modern
dapat membuat pakaian tradisional terancam punah. Tidak hanya pakaiannya saja,
namun seni dan keahlian untuk membuatnya akan ikut punah secara perlahan
seiring berkurangnya minat akan pakaian tersebut.
| Gambar 7 |
Setelah kakiku merasa puas setelah memasuki berbagai ruangan di lantai dua, akhirnya kami pun naik ke lantai tiga. Destinasi terakhir setelah meraungi setidaknya belasan karya seni dan pesan yang tertuang. Menuju ke lantai ketiga dengan karya seni yang tidak kalah atraktif. Salah satunya adalah bioskop mini yang menampilkan sebuah film bertema masa depan oleh Riar Rizaldi (gambar 8). Masa depan yang terlihat surealis, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi. Film yang menyentil kerakusan manusia dalam mengeksploitasi apa yang dikandung bumi, khususnya bagian timur bumi.
| Gambar 8 |
Membawa ke
sebuah pertemuan
Ada salah satu instalasi yang
menarik perhatianku—atau mungkin semua orang yang berkunjung—yaitu, instalasi
berupa mikrofon dan TV oleh Broken Pitch dan Juanga Culture (gambar 9). Instalasi yang
ternyata akan membawa kami ke sebuah pertemuan.
| Gambar 9 |
Instalasi tersebut
mengajak para pengunjung untuk berkaraoke ria dengan lagu yang sudah
disediakan. Lagu berjudul Boki Nukila vs. Kolonial yang bertemakan kolonialisasi.
Boki Nukila sendiri merupakan seorang perempuan yang turut andil dalam melawan
para kolonial di timur Indonesia, tepatnya di kepulauan Maluku. Tidak ingin
melewatkan instalasi yang satu ini, kami memutuskan untuk menyanyikan lagu
tersebut. Tanpa disadari, salah satu pelaku instalasi tersebut memperhatikan
kami dan berterima kasih karena kami telah berinteraksi dengan instalasinya.
Presiden Tidore, begitulah saat
salah satu pelaku instalasi karaoke tersebut memperkenalkan dirinya. Pertemuan
yang tidak sengaja yang membawa kami mengetahui lebih jauh mengenai timur
Indonesia. Pertemuan yang membuat kami dapat melihat perspektif lain dari
fenomena yang terjadi di timur Indonesia.
Kami pun kembali
menyusuri karya seni, tetapi kali ini bersama Presiden Tidore. Presiden Tidore
terlihat sangat antusias untuk membagikan apa yang dia ketahui mengenai
karya-karya seni yang dipamerkan. Kami? Tentu saja kami juga senang sekaligus
antusias mendengarkan penjelasannya karena dapat mengetahui yang tidak tertulis
dalam deskripsi tiap karya seni. Kami
pun terus berbincang hingga tidak terasa waktu kunjungan sudah habis.
Mengakhiri perjalanan
Jarum jam sudah
menunjukkan pukul 5 sore, hujan pun juga sudah reda. 2 hal yang menandakan bila
kami harus segera pulang. Tanpa disadari 2 jam kian berlalu. 2 jam yang
membuatku lebih terbuka mengenai mereka yang berada di daerah Timur Indonesia
hingga Oseania yang jarang—bahkan tidak sama sekali—diekspos oleh media. Masalah-masalah
kontemporer yang mereka alami disuarakan melalui karya seni yang dipamerkan. Masalah
yang menurutku jarang diekspos ke media massa, sehingga kami yang berada di
luar teritorial tersebut jadi tahu menahu soal masalah-masalah ini.
Perjalanan kami mengarungi derasnya
bentang Oseania harus diakhiri. Kami pun pulang dengan membawa perspektif baru
akan kolonialisasi kontemporer yang masih menerjang para individu di Indonesia
timur dan negara-negara di Samudra Pasifik. Perjalanan pilu yang membuat
orang-orang tersadar jika kolonialisasi ini belum usai.

No comments:
Post a Comment