| id.wikipedia.org |
Info Buku:
ISBN: 9899792276947
Judul: Pangeran Kecil (Le Petit Prince)
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Rilis: 2009
“Buku buat anak kecil ya?”, mungkin itu yang dipikirkan orang-orang saat pertama kali melihat cover buku Pangeran Kecil. Cover dengan ilustrasi seorang anak kecil yang berdiri tegap menghadap angkasa terkesan seperti buku dongeng pengantar tidur. Selain cover, jalan cerita dari novel ini makin menambah kesan jika buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Novel ini menceritakan tentang tokoh Aku (sang Pilot) yang terdampar di Gurun Sahara. Kejadian itu mempertemukannya dengan seorang Pangeran Kecil dari Asteroid B612. Selama 8 hari, Pangeran Kecil menceritakan tentang planetnya dan perjalanannya bisa sampai ke bumi.
Dari sinopsisnya pun orang-orang pun akan berpikir jika buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Memang benar jika buku ini bisa diperuntukkan untuk anak-anak, tetapi, buku ini lebih diperuntukkan oleh orang dewasa. “...aku akan mempersembahkan buku ini kepada anak yang kemudian menjadi orang dewasa ini.” (Hal. pembuka). Orang dewasa dalam buku ini digambarkan sebagai makhluk yang berpikiran sempit, tidak imajinatif, membosankan, dan yakin bahwa perspektif mereka adalah yang terbaik. Oleh karena itu, Pangeran Kecil diciptakan oleh Saint-Exupery guna ‘menampar’ dan mengingatkan para orang dewasa akan sikap-sikapnya yang seperti itu. Selain itu, buku ini juga penuh akan insight baru tentang hidup dan sudut pandang baru mengenai hal-hal yang sudah sering ditemui dalam keseharian, salah satunya rasa tanggung jawab.
Cerita dimulai dengan cerita masa kecil sang Pilot. Ia menceritakan bagaimana tidak seru dan tidak imaginatifnya orang dewasa. Sang Pilot kecil menunjukkan gambar seekor gajah yang dilahap oleh seekor ular besar ke orang dewasa, namun, orang dewasa itu menganggapnya hanya sebuah topi. Hal tersebut membuatnya merasa jengkel. Akhirnya, ia pun menggambar bagian dalam ular tersebut dengan gajah di dalamnya. “Maka aku menggambar bagian dalam ular pembelit, agar orang-orang dewasa itu dapat mengerti. (Orang-orang dewasa selalu memerlukan penjelasan).” (Hal.12). Walau sudah digambar, tetap saja orang dewasa tersebut tidak memberi tanggapan apapun, melainkan menasehatinya untuk tidak perlu menggambar lagi dan mempelajari hal-hal yang berguna saja seperti matematika, geografi, sejarah, dan lainnya. Lagi-lagi ia dibuat jengkel karenanya. “Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya, dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan kepada mereka.” (Hal.12).
Kisah dilanjutkan dengan dirinya yang bertemu Pangeran Kecil dan menyimak perjalanannya hingga sampai ke bumi. Sebelum sampai ke bumi, sang Pangeran mengunjungi 6 planet yang didiami 6 penghunišyang pastinya merupakan orang dewasašdengan karakteristik yang berbeda. Di antaranya ada Raja, Penjaga Lentera, Pengusaha, dan Ahli Bumi. Pangeran Kecil tidak merasa terkesima, melainkan merasa ganjil dengan sikap orang dewasa yang ia temui. Ia tidak mengerti dan merasa aneh dengan orang-orang yang bersikap sombong, ingin dipuja dan dikagumi, serta rakus. “Orang dewasa jelas amat sangat aneh” (Hal.53).
Novel ditutup dengan Pangeran Kecil yang meminta ular untuk menggigitnya agar dia bisa kembali ke planetnya. Sungguh ending yang sangat memerlukan imajinasi. Imajinasi memang harus bermain dalam membaca novel ini. Para pembaca dewasa akan sukar untuk membayangkan dan mengkorelasikan satu kejadian dengan kejadian yang lain. Sebagai contoh seperti, seorang penjual pil canggih yang meredakan rasa dahaga, penjual wesel kereta di tengah Gurun Sahara, atau rubah yang mengajari Pangeran Kecil soal tanggung jawab. Jika ditelaah dengan logika itu semua merupakan hal yang tidak masuk akal, tapi bagi anak-anak itu bisa saja terjadi dengan mengandalkan imajinasi mereka. Memang benar seperti apa yang dikatakan Saint-ExupƩry, bahwasanya orang dewasa berpikiran sempit dan kurang imajinatif.
Terlepas dari pembawaannya yang ringan dan imaginatif, novel ini memiliki kekurangan dalam menggunakan sudut pandang yang silih berganti. Sudut pandang orang pertama digunakan pada awal cerita, lalu menggunakan orang ketiga saat menceritakan kisah Pangeran Kecil, dan kembali lagi ke orang pertama. Hal ini bisa membuat para pembaca sedikit bingung dalam menelaah alurnya. Selain sudut pandang, absensi dari daftar isi menjadi kekurangan dalam novel terjemahan ini.
Secara keseluruhan novel terjemahan ini sudah dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh Saint-ExupƩry dengan tepat. Tentu tidak mengherankan bila novel Pangeran Kecil menjadi salah satu buku terlaris dan paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa. Jadi, orang dewasa dari berbagai belahan dunia menyadari betapa tidak mengasyikkannya diri mereka.
No comments:
Post a Comment