Tuesday, January 4, 2022

Orang Dewasa Itu Aneh, Enggak Asyik!


id.wikipedia.org

Info Buku:

ISBN: 9899792276947

Judul: Pangeran Kecil (Le Petit Prince)

Penulis: Antoine de Saint-Exupery

Penerjemah: Listiana Srisanti

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Rilis: 2009

“Buku buat anak kecil ya?”, mungkin itu yang dipikirkan orang-orang saat pertama kali melihat cover buku Pangeran Kecil. Cover dengan ilustrasi seorang anak kecil yang berdiri tegap menghadap angkasa terkesan seperti buku dongeng pengantar tidur. Selain cover, jalan cerita dari novel ini makin menambah kesan jika buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Novel ini menceritakan tentang tokoh Aku (sang Pilot) yang terdampar di Gurun Sahara. Kejadian itu mempertemukannya dengan seorang Pangeran Kecil dari Asteroid B612. Selama 8 hari, Pangeran Kecil menceritakan tentang planetnya dan perjalanannya bisa sampai ke bumi.

Dari sinopsisnya pun orang-orang pun akan berpikir jika buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Memang benar jika buku ini bisa diperuntukkan untuk anak-anak, tetapi, buku ini lebih diperuntukkan oleh orang dewasa. “...aku akan mempersembahkan buku ini kepada anak yang kemudian menjadi orang dewasa ini.” (Hal. pembuka). Orang dewasa dalam buku ini digambarkan sebagai makhluk yang berpikiran sempit, tidak imajinatif, membosankan, dan yakin bahwa perspektif mereka adalah yang terbaik. Oleh karena itu, Pangeran Kecil diciptakan oleh Saint-Exupery guna ‘menampar’ dan mengingatkan para orang dewasa akan sikap-sikapnya yang seperti itu. Selain itu, buku ini juga penuh akan insight baru tentang hidup dan sudut pandang baru mengenai hal-hal yang sudah sering ditemui dalam keseharian, salah satunya rasa tanggung jawab.

Cerita dimulai dengan cerita masa kecil sang Pilot. Ia menceritakan bagaimana tidak seru dan tidak imaginatifnya orang dewasa. Sang Pilot kecil menunjukkan gambar seekor gajah yang dilahap oleh seekor ular besar ke orang dewasa, namun, orang dewasa itu menganggapnya hanya sebuah topi. Hal tersebut membuatnya merasa jengkel. Akhirnya, ia pun menggambar bagian dalam ular tersebut dengan gajah di dalamnya. “Maka aku menggambar bagian dalam ular pembelit, agar orang-orang dewasa itu dapat mengerti. (Orang-orang dewasa selalu memerlukan penjelasan).” (Hal.12). Walau sudah digambar, tetap saja orang dewasa tersebut tidak memberi tanggapan apapun, melainkan menasehatinya untuk tidak perlu menggambar lagi dan mempelajari hal-hal yang berguna saja seperti matematika, geografi, sejarah, dan lainnya. Lagi-lagi ia dibuat jengkel karenanya. “Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya, dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan kepada mereka.” (Hal.12).

Kisah dilanjutkan dengan dirinya yang bertemu Pangeran Kecil dan menyimak perjalanannya hingga sampai ke bumi. Sebelum sampai ke bumi, sang Pangeran mengunjungi 6 planet yang didiami 6 penghuni𑁋yang pastinya merupakan orang dewasa𑁋dengan karakteristik yang berbeda. Di antaranya ada Raja, Penjaga Lentera, Pengusaha, dan Ahli Bumi. Pangeran Kecil tidak merasa terkesima, melainkan merasa ganjil dengan sikap orang dewasa yang ia temui. Ia tidak mengerti dan merasa aneh dengan orang-orang yang bersikap sombong, ingin dipuja dan dikagumi, serta rakus. “Orang dewasa jelas amat sangat aneh” (Hal.53).

Novel ditutup dengan Pangeran Kecil yang meminta ular untuk menggigitnya agar dia bisa kembali ke planetnya. Sungguh ending yang sangat memerlukan imajinasi. Imajinasi memang harus bermain dalam membaca novel ini. Para pembaca dewasa akan sukar untuk membayangkan dan mengkorelasikan satu kejadian dengan kejadian yang lain. Sebagai contoh seperti, seorang penjual pil canggih yang meredakan rasa dahaga, penjual wesel kereta di tengah Gurun Sahara, atau rubah yang mengajari Pangeran Kecil soal tanggung jawab. Jika ditelaah dengan logika itu semua merupakan hal yang tidak masuk akal, tapi bagi anak-anak itu bisa saja terjadi dengan mengandalkan imajinasi mereka. Memang benar seperti apa yang dikatakan Saint-Exupéry, bahwasanya orang dewasa berpikiran sempit dan kurang imajinatif.

Terlepas dari pembawaannya yang ringan dan imaginatif, novel ini memiliki kekurangan dalam menggunakan sudut pandang yang silih berganti. Sudut pandang orang pertama digunakan pada awal cerita, lalu menggunakan orang ketiga saat menceritakan kisah Pangeran Kecil, dan kembali lagi ke orang pertama. Hal ini bisa membuat para pembaca sedikit bingung dalam menelaah alurnya. Selain sudut pandang, absensi dari daftar isi menjadi kekurangan dalam novel terjemahan ini.

Secara keseluruhan novel terjemahan ini sudah dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh Saint-Exupéry dengan tepat. Tentu tidak mengherankan bila novel Pangeran Kecil menjadi salah satu buku terlaris dan paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa. Jadi, orang dewasa dari berbagai belahan dunia menyadari betapa tidak mengasyikkannya diri mereka.


Tuesday, December 21, 2021

Childfree atau Tidak, Ya?

 Menggaungkan childfree di lingkungan konservatif

    Belum lama ini, dunia maya diramaikan oleh pembicaraan seputar childfree semenjak seorang influencer dan youtuber Gita Savitri—atau biasa dikenal dengan Gita Sav—terang-terangan menyuarakan tentang keinginannya dengan suami untuk childfree melalui akun instagram dan youtube-nya. Dilansir melalui situs Wolipop, Gita berpendapat jika tidak memiliki atau memiliki anak adalah pilihan hidup. Memiliki anak merupakan tanggung jawab yang besar. Gita juga menambahkan jika ingin memiliki anak, maka harus direncanakan matang-matang.

    Selain Gita Sav, aktris Cinta Laura juga mengaungkan hal yang sama. Hal ini diungkapkannya dalam video bersama Ashanty. Menurut Cinta dengan tidak mempunyai anak, ia sudah membantu dunia yang kini mengalami overpopulasi. Aktris keturunan Jerman ini merasa jika lebih baik mengadopsi anak ketimbang melahirkan seorang anak. Ia merasa masih banyak anak-anak sebatang kara di luar sana yang butuh pertolongannya.

    Pernyataan kedua public figure tersebut mengundang perhatian netizen dan media. Bagaimana tidak heboh, pasalnya konsep childfree masih awam di masyarakat Indonesia.  Childfree adalah konsep untuk tidak memiliki setelah menikah. Childfree merupakan keputusan yang kontroversial di kalangan masyarakat Indonesia yang konservatif, yang masih berpegang pada norma, agama, dan tradisi. Jika menyimpang dari ketiga hal tersebut, maka akan dianggap aneh.

    Jadi, tidak mengherankan jika banyak yang kontra akan konsep ini. Mayoritas dari mereka yang kontra menggunakan tradisi dan agama sebagai argumen. Mereka berargumen jika sepasang suami istri yang tidak mempunyai anak tidak akan mendapatkan amal jariah bagi yang muslim, tidak ada yang merawat saat tua nanti, silsilah keluarga terputus, akan merasa kesepian saat tua nanti, dicemoh orang sekitar bahkan keluarga, hingga membawa pengaruh buruk pada kesehatan.

Jadi, punya anak itu keinginan atau tuntutan?

    Jika dilihat dari argumen yang kontra akan childfree, maka dapat dikatakan jika masyarakat masih terikat dengan “hidup ideal” ala orang Indonesia. Hidup yang didambakan dan diekspektasikan masyarakat Indonesia, yaitu Sekolah—kuliah—kerja (kalau bisa PNS)—menikah—punya anak—menikmati hari tua. Mereka yakin, jika menjalani hidup seperti itu, maka hidup akan terjamin. Kalau satu tahapan saja dilewati, masyarakat siap untuk menghakimi—khususnya persoalan mempunyai anak. Mereka menganggap memiliki anak adalah suatu keharusan dengan iming-iming “menjaga atau meneruskan keturunan” atau “biar tua nanti ada mengurusi.”

    Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak dinilai sebagai sesuatu yang abnormal, tidak seperti pasangan suami istri pada “umumnya”. Pasangan suami istri yang umum di mata masyarakat tentu saja pasangan yang mempunyai anak. Keluarga dianggap utuh dan “normal” jika adanya kehadiran buah hati. Di samping itu, kita pasti tidak asing dengan “Kalau sudah menikah harus punya anak, ya”, “belum jadi wanita kalau belum melahirkan”, atau “wanita itu kodratnya melahirkan, mengurusi anak.” Kalimat yang sering dilontarkan oleh masyarakat—atau bahkan keluarga—kepada seorang istri yang tidak mempunyai anak—khususnya jika baru menikah.

    Narasi “harus punya anak” sudah tertanam dan terus berkembang di masyarakat Indonesia hingga menjadi pedoman dalam berkeluarga. Tidak sedikit pasangan yang bersikeras untuk mempunyai anak agar tidak dikucilkan atau menjadi bahan gunjingan di lingkungannya. Hal ini dialami oleh istri dari pemilik akun @redyputri. Sang istri menangis tersedu-sedu karena selalu disindir perihal kehamilan setiap kali ia menggendong bayi milik tetangga. Peristiwa yang dialaminya membuktikan jika wanita diharuskan untuk hamil dan mempunyai anak—jika tidak ingin dicibir.

    Fenomena ini kerap diteliti oleh F. Van Balen dan H. M. W. Bos mengenai konsekuensi sosial karena tidak mempunyai anak di dalam The Social and Cultural Consequences of Being Childless in Poor-Resource Areas. Van Balen dan Bos menguraikan konsekuensi yang serius kerap tertuju pada seorang istri. Tidak sedikit kasus istri yang dikucilkan, dilecehkan ditolak oleh pihak keluarga—khususnya ibu mertua—hingga dicap tidak subur.

Mereka yang melawan stigma negatif akan childfree

    Stigma negatif yang diterima seorang wanita jika tidak ingin mempunyai anak akan terus berlanjut, entah sampai kapan. Tetapi, ini tidak menghalangi mereka yang memutuskan untuk childfree. Mereka tentu sudah memikirkannya secara matang. Situs VOA Indonesia mewawancarai Veronica Wilson mengenai childfree. Ia mengatakan alasannya memilih untuk tidak memiliki anak karena ia dibesarkan oleh ibunya yang memiliki perilaku toxic. Ia khawatir sifat ibunya menurun ke dirinya atau ke keturunannya kelak.

    Selanjutnya, faktor ekonomi juga mendorong para wanita untuk memilih childfree. Banyak pasangan suami istri yang khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan yang terbaik untuk anaknya karena biayanya yang tidak sedikit. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa untuk merawat serta mendidik seorang anak dibutuhkan biaya yang besar. Menurut tim riset tirto.id di tahun 2016, estimasi biaya yang dikeluarkan untuk seorang anak dari lahir (tahun 2016) sampai umur 21 tahun (tahun 2037) adalah sekitar 2.94 miliar rupiah. CNBC Indonesia memberitakan jika orang tua di Amerika rata-rata menghabiskan 233.610 dolar AS atau sekitar 3.2 miliar rupiah dari melahirkan sampai anak menginjak 17 tahun. Tentunya angka ini akan terus bertambah seiring waktu. Jadi, banyak anak, banyak rezeki tidak lagi relevan, melainkan banyak anak, banyak cari rezeki.

    Selain faktor pengalaman hidup dan ekonomi, faktor iklim dan lingkungan juga dikemukakan mereka yang memilih untuk childfree. Shinta Maharani dilansir dari tirto.id mengatakan jika perubahan iklim mendorongnya untuk childfree. Menurut Shinta, jika ia mempunyai anak, maka secara langsung akan menambah beban masalah bagi bumi karena harus menyediakan sumber makanan untuk anaknya. Dikutip independent.co.uk, kelahiran seorang anak setiap tahunnya di negara maju bisa meningkatkan karbon sebesar 58,6 ton.

    Kembali ke Cinta Laura yang menjadikan faktor overpopulasi sebagai pilihannya untuk childfree. Faktanya, Pada 2017, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi di tahun 2030, penduduk bumi akan menyentuh angka 8,6 miliar dan bertambah menjadi 9,8 miliar di tahun 2050. Jumlah ini akan terus meningkat hingga 11,2 miliar di tahun 2100. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat akan berakibat pada ekonomi, kesehatan, dan perlindungan sosial. Oleh karena itu, memperlambat laju pertumbuhan penduduk dinilai turut memperlambat perubahan iklim, pengasaman laut dan penebangan liar.

Jadi, apakah childfree lebih baik?

    Tidak juga, childfree merupakan pilihan bukan keharusan dengan embel-embel menyelamatkan bumi. Ditambah lagi jika tinggal di negara dengan penduduk konservatif dengan budaya kolektifnya. Sebelum memutuskan untuk childfree bersama pasangan, ada baiknya didiskusikan dahulu ke pasangan dan keluarga besar, mengingat pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, melainkan dua keluarga. Tidak jarang orang tua dari kedua pasangan menginginkan seorang cucu.

    Walau pasangan childfree bisa dikatakan sebagai pahlawan bumi, tetapi tetap saja mereka harus tahan akan tekanan & stigma negatif dari lingkungan mereka. Cara paling mudah untuk menanggapi tekanan dan stigma yang datang dengan adalah dengan mengabaikannya, tetapi untuk sebagian orang, ini merupakan hal yang sulit mengingat tidak semua mental dapat dipukul rata. Cara lainnya bisa dengan mengutarakan secara lugas alasan untuk childfree, sekalipun itu sulit diterima oleh masyarakat.

Referensi:

https://www.grid.id/read/042848679/indonesia-geger-soal-childfree-cinta-laura-malah-blak-blakan-akui-tak-mau-punya-anak-hingga-singgung-soal-populasi-manusia-ternyata-ini-alasan-di-baliknya?page=all

https://tirto.id/arti-childfree-dan-hal-yang-harus-dipertimbangkan-menurut-psikolog-giT5

https://tirto.id/ketika-lingkungan-menjadi-dasar-untuk-tak-punya-anak-dj5d

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4251270/

https://www.voaindonesia.com/a/tanpa-anak-dan-bahagia-mengapa-tidak-/5956367.html

https://www.independent.co.uk/climate-change/sustainable-living/climate-crisis-children-family-planning-b1889373.html

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20180403112015-33-9467/mahalnya-biaya-punya-anak-masa-kini

https://tirto.id/mahalnya-biaya-membesarkan-anak-bofH

https://heylawedu.id/blog/childfree-fenomena-childfree-dan-konstruksi-masyarakat-indonesia

https://www.dream.co.id/your-story/wanita-menikah-3-tahun-belum-dikaruniai-anak-suka-pinjam-bayi-tetangga-210924u.html

https://wolipop.detik.com/wedding-news/d-5684224/gita-savitri-viral-karena-komentar-soal-pernikahan-childfree-apa-itu

https://rumaysho.com/29276-bolehkah-muslim-ikut-tren-childfree-menikah-tidak-ingin-punya-anak.html

 

Friday, November 19, 2021

“Anak merupakan cerminan orang tua” adalah benar adanya


    Terdapat teori sosialisasi yang menyatakan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi pertama dalam membentuk karakteristik seorang anak. Jadi, bisa dikatakan perilaku orang tua di rumah senantiasa diamati dan dicontoh oleh anak mereka yang kemudian membentuk suatu watak. Saat anak mereka sudah siap terjun ke masyarakat, watak tersebutlah yang diperlihatkan ke orang banyak. Teori ini oleh masyarakat Indonesia dikenal sebagai satu ujaran yang kerap ditemui, yaitu “Anak adalah cerminan dari orang tuanya.”

infoscreening.co


    “Anak adalah cerminan dari orang tuanya” kemudian dikemas sedemikian rupa oleh Racavana Films dan Humoria Films melalui film pendek berjudul “Anak Lanang” (2017). Tokoh empat anak SD pada film ini memvalidasi ujaran tersebut melalui cara mereka berinteraksi satu sama lain. Di sepanjang film, penonton akan disuguhkan berbagai obrolan sepulang sekolah khas anak SD. Obrolan yang ringan dan sederhana yang hanya sebatas PR, game, murid baru, tebak-tebakan, hingga tren terbaru. Walaupun ringan dan sederhana, obrolan serta interaksi di antara mereka inilah yang menjadi fokus utama dalam film Anak Lanang.


    Obrolan dan interaksi mereka menunjukkan watak masing-masing tokoh, yang secara tidak langsung menunjukkan watak orang tua mereka, khususnya ibu mereka. Sigit yang bersikap tenang dan sabar menghadapi dinamika selama sepanjang perjalanan pulang. Sikapnya ini ia contoh dari sang ibu. Walaupun scene Ibu Sigit hanya sebentar, tetapi terlihat jelas jika Ibunya berwatak tenang dan penyabar, “Enak ya jadi Sigit, Ibunya baik, ngga kaya ibuku,” ujar salah satu anak. 


    Berlanjut ke anak yang dipanggil Sul yang mengatakan ke teman-temannya kalau ibunya gemar menonton sinetron, “Keren tau Pak, daripada sinetron yang ditonton ibuku, lebih keren ini!”. Dari ibunya yang suka menonton sinetron inilah, Sul menjadi gemar mengadu domba teman-temannya agar bertengkar. Tidak bisa dipungkiri lagi bila sinetron kerap menayangkan adegan-adegan pertengkaran, dan siapa tahu ibu Sud terpengaruh salah satu adegannya━entah adegan bertengkar atau adu domba.


    Kedua anak terakhir merupakan klimaks dari film pendek ini. Selama perjalanan mereka hanya saling beradu mulut dengan melontarkan nama ibu mereka. Mungkin penonton akan menerka jika mereka memang merupakan teman dekat karena saling tahu nama ibu masing-masing. Ternyata Mereka berdua merupakan saudara satu bapak beda ibu alias bapak mereka melakukan poligami. 


    Melalui dua anak terakhir, yaitu Yudho dan anak yang tidak disebutkan namanya, sutradara merepresentasikan imbas dari seseorang yang berpoligami, yakni munculnya ketidakharmonisan rumah tangga. Seperti yang sudah disebutkan jika anak adalah cerminan orang tuanya, berarti dapat disimpulkan kalau kedua ibu mereka suka bertengkar dan meneriaki namanya masing-masing yang kemudian ditiru oleh anak-anak mereka. Alasan kedua ibu mereka bertengkar dikarenakan suami mereka tidak mampu menafkahi istri dan anaknya secara adil. Terlihat dari gaya Yudho dan ‘saudaranya’. Yudho terlihat sederhana dan apa adanya, sedangkan ‘saudaranya’ terlihat lebih tajir dengan memakai jam tangan, lalu handphone yang selalu digenggamnya, dan ia juga jajan saat sepulang sekolah━yang berarti jatah uang sakunya lebih banyak. Sang sutradara menyindir mereka yang berpoligami yang tidak mampu menafkahi mereka dengan baik. Masalah yang kerap dihadapi oleh suami yang memutuskan untuk berpoligami. 


    Terlepas dari pesan-pesan tersirat di sepanjang film, teknik one shot yang dipakai dalam film pendek ini juga patut diberi spotlight. Pasalnya, tidak mudah untuk melakukan teknik ini, terlebih lagi para tokohnya adalah anak-anak. Dengan menggunakan teknik one shot, penonton akan merasa masuk ke dalam film dan serasa ikut dalam percakapan para anak lanang. 


    Wahyu Agung Prasetyo selaku sutradara, sukses mengemas “Anak adalah cerminan dari orang tuanya” secara ringan, apik, menggelitik, sekaligus satire melalui perspektif anak-anak━yang jujur dan apa adanya. Film ini dapat menjadi refleksi bagi mereka yang akan menjadi orang tua agar lebih berhati-hati dan bersikap bijak dalam membangun rumah tangga mendidik anaknya kelak.


Monday, November 8, 2021

Mengarungi Bentang Oseania


Minggu ketiga di bulan Oktober, menghantarkanku dan teman-temanku pada sebuah pameran seni yang terletak di sebuah gedung di Kota Yogyakarta. Bulir-bulir hujan di siang kala itu tidak membuat kami dan para pengunjung berjalan mundur. Mereka berbaris rapi memasuki gedung bertingkat tiga yang berdampingan dengan pohon beringin besar nan rindang. Gedung yang dinamai Jogja National Museum ini menjadi tempat utama diselenggarakannya pameran seni ke 16 milik Yayasan Biennale Yogyakarta. Penyelenggaraan ini sekaligus mengakhiri seri perjalanan Biennale di bentang ekuator.

Merasakan dan memaknai apa yang dilalui oleh mereka di bentang Indonesia Timur hingga Oseania menjadi esensi utama dari diselenggarakannya pameran seni bertajuk Biennale Jogja XVI Equator #6 Indonesia with Oceania “Roots < > Routes”. Selama 39 hari, mereka mengajak para khalayak untuk mengarungi dalamnya bentang dunia bagian timur yang dianggap terbelakang oleh narasi kolonialisme Barat.

Memaknai apa yang mereka alami

Kolonialisme menjadi kunci dalam memahami setiap seni yang dipamerkan. Mengingat hubungan antara Indonesia dan negara-negara Oseania memang terlihat berbeda secara budaya dan geopolitik. Namun, perbedaan yang mereka rasakan kerap disatukan dengan ingatan kolektif akan penindasan dan penjajahan di masa lalu. Sayangnya, penindasan dan penjajahan yang mereka alami terus menghantui hingga hari ini, tentunya dengan bentuk yang berbeda, khususnya di Indonesia.

Rasa penjajahan dan penindasan dapat dipahami ketika kami melihat instalasi dalam ruangan pertama yang dipersembahkan oleh Udeido Collective. Mataku langsung tertuju kepada salah satu instalasi yang berkesan vulgar (gambar 1). 

Gambar 1

Instalasi dengan pahatan peluru berbentuk penis yang dikelilingi oleh pakaian dalam wanita serta tulisan berisi inisial nama-nama korban. Iya, nama-nama tersebut merupakan korban dari kekejian para lelaki berseragam yang turut serta menindas secara fisik maupun seksual para perempuan Papua. Mereka berperilaku selayaknya penjajah kala itu. “Padahal baru ruangan pertama, tapi pesannya sudah sekuat ini,” gumamku. Di ruangan pertama juga terdapat piramida (gambar 2) berisi tahapan kehidupan yang diyakini orang Papua yang puncaknya berada di Koreri (gambar 3). Tempat berkumpul para jiwa-jiwa, atau biasa disebut surga oleh kebanyakan orang. Koreri yang membuatku tidak henti-hentinya berdecak kagum.

Gambar 2

Gambar 3

       



Tidak jauh dari ruangan pertama, terdapat ruangan yang memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi dengan instalasi. Instalasi tersebut dipersembahkan oleh sebuah platform kolektif bernama A Pond is the Reverse of an Island. Melenceng dari tema, tetapi masih ada unsur kolonialisasi, instalasi ini menaikkan kesadaran pengunjung akan penggusuran yang kerap dialami oleh para warga di daerah Kalideres, Jakarta Barat. Tanah mereka ‘dijajah’ demi majunya pembangunan kota. Para pengunjung diperkenankan untuk mewarnai atau menulis surat untuk para pengungsi Kalideres (gambar 4 dan gambar 5).

Gambar 4

Gambar 5

Masih di lantai yang sama, mata kami tertuju pada salah satu ruangan yang memamerkan 6 lukisan. Lukisan tersebut dibuat oleh Antoine Pecquet, seorang diaspora Prancis yang tinggal di Kaledonia Baru. Melalui karyanya, ia mengajak para pengunjung untuk mengeksplorasi isu gender dan identitas. Selain itu, Pecquet juga memaparkan adanya hubungan yang kompleks antara keturunan Eropa dan penduduk asli pasca kolonialisasi.

Melihat ruang demi ruang, pesan demi pesan pun kian tersampaikan secara abstrak dan realistis. Akhirnya, kami pun menuju ke lantai dua. Terdapat salah satu instalasi oleh seniman asal Ambon, Ersal Ummamit yang mencuri perhatianku. Instalasi yang terlihat ‘berdarah’ (gambar 6) sekaligus memilukan bagi siapa pun yang melihat dan memaknainya. Pulau Banda yang terletak di timur Indonesia menyisakan kepedihan bagi penduduknya akan tragedi pembantaian. Hingga saat ini ‘pembantaian’ terus berlanjut dengan bentuk eksploitasi rempah di tanah Banda. Penjajahan rempah yang tak kapan berhenti.

Gambar 6

                Derap kakiku tiada henti menghampiri karya seni yang dipamerkan. Derap itu sampai pada bentangan kain dengan berbagai motif yang tidak biasa (gambar 7). Karya seni tersebut merupakan karya dari seorang seniman berdarah Belanda Mella Jaarsma dan seniman asal Papua, Agustinus Ongge. Mereka pun berkolaborasi untuk menunjukkan jika penjajahan bisa datang dari berbagai bentuk, salah satunya adalah pakaian. Pakaian modern dapat membuat pakaian tradisional terancam punah. Tidak hanya pakaiannya saja, namun seni dan keahlian untuk membuatnya akan ikut punah secara perlahan seiring berkurangnya minat akan pakaian tersebut.

Gambar 7

Setelah kakiku merasa puas setelah memasuki berbagai ruangan di lantai dua, akhirnya kami pun naik ke lantai tiga. Destinasi terakhir setelah meraungi setidaknya belasan karya seni dan pesan yang tertuang. Menuju ke lantai ketiga dengan karya seni yang tidak kalah atraktif. Salah satunya adalah bioskop mini yang menampilkan sebuah film bertema masa depan oleh Riar Rizaldi (gambar 8). Masa depan yang terlihat surealis, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi. Film yang menyentil kerakusan manusia dalam mengeksploitasi apa yang dikandung bumi, khususnya bagian timur bumi.

Gambar 8


Membawa ke sebuah pertemuan

Ada salah satu instalasi yang menarik perhatianku—atau mungkin semua orang yang berkunjung—yaitu, instalasi berupa mikrofon dan TV oleh Broken Pitch dan Juanga Culture (gambar 9). Instalasi yang ternyata akan membawa kami ke sebuah pertemuan.

Gambar 9

Instalasi tersebut mengajak para pengunjung untuk berkaraoke ria dengan lagu yang sudah disediakan. Lagu berjudul Boki Nukila vs. Kolonial yang bertemakan kolonialisasi. Boki Nukila sendiri merupakan seorang perempuan yang turut andil dalam melawan para kolonial di timur Indonesia, tepatnya di kepulauan Maluku. Tidak ingin melewatkan instalasi yang satu ini, kami memutuskan untuk menyanyikan lagu tersebut. Tanpa disadari, salah satu pelaku instalasi tersebut memperhatikan kami dan berterima kasih karena kami telah berinteraksi dengan instalasinya.

            Presiden Tidore, begitulah saat salah satu pelaku instalasi karaoke tersebut memperkenalkan dirinya. Pertemuan yang tidak sengaja yang membawa kami mengetahui lebih jauh mengenai timur Indonesia. Pertemuan yang membuat kami dapat melihat perspektif lain dari fenomena yang terjadi di timur Indonesia.

Kami pun kembali menyusuri karya seni, tetapi kali ini bersama Presiden Tidore. Presiden Tidore terlihat sangat antusias untuk membagikan apa yang dia ketahui mengenai karya-karya seni yang dipamerkan. Kami? Tentu saja kami juga senang sekaligus antusias mendengarkan penjelasannya karena dapat mengetahui yang tidak tertulis dalam deskripsi tiap karya seni.  Kami pun terus berbincang hingga tidak terasa waktu kunjungan sudah habis.

Mengakhiri perjalanan

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, hujan pun juga sudah reda. 2 hal yang menandakan bila kami harus segera pulang. Tanpa disadari 2 jam kian berlalu. 2 jam yang membuatku lebih terbuka mengenai mereka yang berada di daerah Timur Indonesia hingga Oseania yang jarang—bahkan tidak sama sekali—diekspos oleh media. Masalah-masalah kontemporer yang mereka alami disuarakan melalui karya seni yang dipamerkan. Masalah yang menurutku jarang diekspos ke media massa, sehingga kami yang berada di luar teritorial tersebut jadi tahu menahu soal masalah-masalah ini.

            Perjalanan kami mengarungi derasnya bentang Oseania harus diakhiri. Kami pun pulang dengan membawa perspektif baru akan kolonialisasi kontemporer yang masih menerjang para individu di Indonesia timur dan negara-negara di Samudra Pasifik. Perjalanan pilu yang membuat orang-orang tersadar jika kolonialisasi ini belum usai.

 

 

 

Wednesday, March 10, 2021

Ranah Baru bagi Penulis Baru

Saat ini, banyak kita jumpai nama-nama penulis baru di toko buku dengan karya-karyanya yang menarik untuk dibaca. Selain itu, para penulis baru ini memiliki sejumlah daya tarik, entah jalan ceritanya, cara penulisannya, atau genre buku yang ditulis. Berbicara soal genre, genre buku di Indonesia memang didominasi oleh genre romantis, horor, misteri, atau fantasi. Walau demikian, hal ini tidak menghambat penulis baru yang menyongsong genre yang paling jarang di Indonesia, yaitu science-fiction untuk menerbitkan bukunya. Mashuri, panggilan penulis baru dengan genre yang jarang ini. Seorang mahasiswa teknik dengan ketertarikannya menulis science-fiction.

AWAL KETERTARIKAN

Sejak awal, Mashuri tidak mempunyai tidak punya ketertarikan akan menulis dan membaca. Ketika dia duduk di bangku SMP, dia mulai mencoba menuangkan semua imajinasi dan idenya ke dalam platform daring bernama Wattpad untuk menulis dan membaca cerita. Awalnya ia ragu, karena dia sendiri pun tidak pernah membaca buku, apalagi menulis. Tetapi, akhirnya dia mencoba untuk menulis, menulis, dan menulis lagi sampai ia menemukan titik di mana kalau menulis adalah hobinya. Hal ini gilirannya membuatnya mulai untuk membaca buku.

TERINSPIRASI DARI SUZANNE COLLINS

Suzanne Collins dengan karyanya yang difilmkan, yaitu Hunger Games beserta sekuel-sekuelnya lah yang menjadi inspirasi Mashuri untuk mencoba baca karya-karyanya yang lain dan juga mendorongnya untuk membaca buku-buku dari penulis lain, seperti Dee Lestari.

Dari Suzanne Collins juga lah dia juga menyadari jika kita bisa mengembangkan imajinasi yang visualnya bisa dinilai oleh khalayak ramai, entah itu sesuai dengan ekspektasi mereka atau tidak.

BERAWAL DARI WATTPAD

Ide serta imajinasinya pun ia tuangkan ke dalam Wattpad. Awalnya ia membuat tulisan yang terinspirasi dari 3 buku yaitu, Hunger Games, Divergent, dan Maze Runner. Sayangnya, tulisan itu tidak terlalu sukses dan hal ini membuatnya enggan untuk menulis lagi. Akan tetapi, setelahnya ia menonton 4 film science-fiction dan memutuskan untuk mencoba lagi membuat tulisan seputar time travel dan outer space. Dari situ lahirlah buku pertamanya berjudul “Destination: Jakarta 2040” saat ia duduk di bangku kelas 2 SMP.

Penulisan buku berlanjut sampai akhir cerita di tahun 2016 dengan total 290 ribu pembaca dan masuk ke dalam kategori buku yang paling banyak dibaca di Wattpad.

DINAMIKA PENULISAN

Selama penulisan buku pertama di Wattpad, ia mendapati sekumpulan pengkritik karya-karya di platform tersebut. Sebenarnya ini bukan masalah besar jika para pengkritik tersebut meninggalkan kritik yang membangun. Akan tetapi, ada salah satu yang memberikan komentar negatif seperti, “udah lah enggak usah nulis di Wattpad kalau (ceritanya) kayak gini”. Lalu, yang kedua adalah kesulitan untuk memasukkan genre science-fiction ke pasaran yang ramai dengan genre romance atau teen-fiction. Genre ini memang salah satu yang paling jarang di dunia sastra Indonesia. Hal ini lah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Mashuri. Dia berusaha untuk membuat para pembaca tahu maksud cerita yang dibuat dan juga ia ingin membuat pembaca merasa tertantang untuk membaca ceritanya. Tapi, sayangnya banyak dari mereka tidak mengerti, sehingga mereka berhenti membaca di tengah jalan. Selain itu, tidak jarang juga ia mendapat cemoohan karena ceritanya yang “tidak jelas”. 

Sukanya, dalam penulisan adalah ia diapresiasi oleh banyak orang, hingga dapat kesempatan bertemu orang-orang baru melalui komunitas-komunitas penulis.

PROSES PENERBITAN

Kesuksesan buku pertamanya di Wattpad membuatnya berkeinginan untuk menerbitkan “Destination: Jakarta 2040”. Awalnya ia mengirimkan naskahnya ke 7 penerbit dan ditolak semua. Tapi, dia tidak putus asa, dia mencoba lagi mengirimkan naskahnya ke 3 penerbit. Akhirnya, Januari 2020 naskahnya diterima oleh salah satu penerbit terbesar di Indonesia.

Proses setelah diterbitkan pun tidak lah selalu berjalan lancar, tentu ada hambatan. Pertama adalah pengurusan kontrak yang tidak mudah, karena harus membaca sebanyak berlembar-lembar halaman dan harus benar-benar memahami semua poin yang tertulis. Selain itu, penting juga untuk mengetahui benefit apa yang kita dapat dan tahu buku yang diterbitkan akan diberlakukan seperti apa oleh penerbit.

Setelah urusan kontrak sudah selesai, masuklah ke fase revisi. Di fase ini, cerita kita bakal di-judge lagi, tapi judge ini akan berbuah bagus, karena di sinilah cerita kita diolah lagi agar layak dibaca. Bentuk judge yang dimaksud seperti, mereka (editor) memerahi naskah, ditanya maksud dari ceritanya. Hal ini lah yang membuatnya harus merombak lagi ceritanya.

SEPUTAR Destination: Jakarta 2040

Buku pertamanya ini bertemakan science-fiction dan berfokus ke fisika modern terutama teori relativitas. Destination: Jakarta 2040 menceritakan seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya berada di suatu ruang waktu yang berbeda dan bagaimana dia berusaha untuk kembali ke ruang waktu yang awal dengan memanfaatkan kepintarannya. Banyak plot twist yang diselipkan hingga bisa membuat pembaca bertanya-tanya. Tidak sampai di situ, buku ini disuguhkan dengan ending yang tidak tertebak, yang menjadikan daya tarik lain dari buku ini.

NEXT PROJECT

Dia sudah menyiapkan project yang akan dilakukan ke depannya. Yang pertama adalah penerbitan buku kedua setelah buku pertama “Destination: Jakarta 2040” ini terbit. Lalu, di tahun 2021, Mashuri akan menyelesaikan buku ketiganya. Selain itu, ia juga akan mempromosikan genre bukunya yaitu, science-fiction. Setelah itu, ada pula keinginan untuk bereksperimen dengan genre yang lain, karena sekarang pun ia mempunyai beberapa draft novel yang masing-masing berbeda judul, beda genre, dan beda cerita.

TIPS MENULIS ALA MASHURI

Yang pertama, harus hobi menulis dan harus ada keinginan. 2 hal itu terpenting, karena jika ada ide, tapi tidak ada 2 hal itu akan sulit untuk meneruskan tulisan tersebut. Selain itu, adanya motivasi untuk menulis. Bagi Mashuri sendiri, motivasi untuk menulis adalah untuk menghilangkan rasa bosan dan untuk menuangkan semua idenya ke dalam tulisan. Jika dia tidak ada, dia akan meninggalkan tulisan itu lalu melanjutkannya nanti sambil mencari ide serta niat untuk kembali melanjutkan.

.

.

.

okay, honestly, tulisan berisi interview dengan Mashuri ini merupakan tugas akhir gue di semester 3 untuk memenuhi nilai UAS...ya gitu. Dah pokoknya jangan lupa dapatkan Destination: Jakarta 2040 di toko buku terdekat atau kalau mager bisa didapatkan via e-commerce!

 

Tuesday, November 10, 2020

ĂȘtes-vous heureuse?

Tulisan kali ini didasarkan oleh sebuah pertanyaan yang diajukan oleh dosen kepada diri ini. 

Bermula dari kelas daring dengan mata kuliah pengantar sastra. Keadaan kelas pun seperti kelas pada umumnya; dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat. Mahasiswa mengajukan pernyataan, dosen menjawab. Dosen bertanya, mahasiswa menjawab. 

Begitu terus sampai beliau mengajukan pertanyaan sederhana ke diri ini, "ĂȘtes-vous heureuse?" atau dalam bahasa Indonesia "apakah anda bahagia?". Mungkin untuk sebagian orang itu adalah pertanyaan sederhana dengan jawaban iya atau tidak. Pertanyaan yang mungkin sebagian orang sudah tau jawabannya tanpa harus bertanya lagi kepada dirinya sendiri atau dipikirkan secara mendalam. Tapi, tidak dengan diri ini. 

Saat mendapat pertanyaan sederhana itu, diri ini kebingungan, entah harus menjawab iya atau tidak. Di saat itu juga diriku mempertanyakan bahagia itu apa, apakah aku bahagia?

"Bahagia itu apa?", sebuah pertanyaan dengan jawaban yang tak terbatas. Bahagia bisa saja didefinisikan dengan perasaan tanpa rasa sedih atau gundah atau perasaan yang membuat kita tidak lagi memikirkan hal-hal sedih. Definisi yang sederhana, bukan? Tapi, kenapa diri ini membuat definisi yang sederhana itu menjadi rumit? Entah. 

"Perasaan apa yang dirasakan jika merasa bahagia?", sebuah pertanyaan yang sederhana pula yang dapat dijawab dengan "tidak merasa sedih". Tapi, apakah kesedihan itu merupakan tolak ukur untuk merasa bahagia? Jika semakin sedikit perasaan sedih yang dirasakan, apakah akan membuat seseorang bahagia? Mungkin tidak juga. Setiap orang punya perspektif yang beda terkait dengan pertanyan itu. Entah seperti apa, hanya mereka yang tahu jawabannya. 

 "Apakah diri ini bahagia?" Entah. Entah standar kebahagiaan yang seperti apa untuk sekadar merasakan perasaan itu. Pertanyaan yang sederhana, tapi sukar untuk dijawab. Entah sampai kapan pertanyaan ini sukar untuk dijawab, apa mungkin sampai diri ini menemukan jawaban akan hal itu? Mungkin.

Akan tetapi, satu hal yang pasti dari banyak pertanyaan yang ada adalah, bahagia itu suatu yang mutlak, semua orang pasti merasakannya dengan cara, tolak ukur, dan definisi yang berbeda pula.
Dan tentu diri ini akan merasakannya dan menemukan jawaban dari semua pertanyaan tersebut. Kapan? Entah. Sooner or later.

Saturday, February 15, 2020

Balik lagi

Oke, sepertinya sudah terlalu lama gue menelantarkan blog ini, terakhir pun gue tulis di sini karena ada tugas dari dosen.
Hmm, kalau dipikir-pikir lagi terakhir gue rutin nulis blog ini mungkin di tahun 2017, yang di mana gue masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan sekarang gue udah duduk di bangku kuliah semester 2.

Donc, di tulisan ini gue mau cerita singkat aja bagaimana perjalanan gue selama gue menelantarkan blog ini. Dimulai dari masa SMA gue di bilangan Jakarta Selatan, ya masa-masa paling seru, paling carefree lah pokoknya dengan agenda harian gue di sekolah "tidur-makan-ngobrol-main hp-rumpi di kantin (sampai ada mood mau pulang)" dan ada agenda tambahan saat menginjak tahun terakhir sekolah, yup, bimbel. Tempat bimbel yang nyaman dan seru, ditambah letaknya yang gak terlalu jauh dari sekolah, membuat gue kalau jalan ke tempat les 10-5 menit sebelum kelasnya dimulai.

Menghabiskan 3 tahun di SMA dan kurang lebih 1 tahun di tempat bimbel terbayar oleh barcode dan kotak warna hijau di laman pengumuman SNMPTN. Iya, gue keterima di PTN impian gue dari dulu, ini berarti gue harus merantau ke Yogyakarta dan tentu saja gue senang banget, karena emang gue ingin ngerantau, ditambah di Yogya sana masih ada abang gue yang melanjutkan studinya di kampus yang sama, hanya beda fakultas saja, jadi seenggaknya gue masih ada keluarga. Oh iya, dan juga di Yogya biaya hidupnya murah dibanding Jakarta, bahagia deh gue.

Agustus 2019, resmi menjadi maba dengan mengikuti serangkaian ospek yang seru (banget), iya, gue pengen ospek lagi rasanya (ingin lagi karena dapat makan siang dan snack gratis). Hari-hari di kampus pun berjalan dengan lancar alhamdullilah, gue punya teman-teman yang baik mampus yang berasal dari berbagai daerah, para kakak tingkat yang juga baik parah dan gue anggap mereka sebagai kakak sendiri, dan tentu saja teman separantauan gue (a.k.a. teman-teman SMA yang juga merantau di Yogya). Tugas kuliah? Alhamdullilah masih sesuai dengan kemampuan, ya walaupun kadang ada dosen yang ngasih tugas di luar kemampuan. Di kampus pun gue mengikuti beberapa kegiatan, seperti himpunan prodi, UKM, BSO (UKM tingkat fakultas), dan beberapa kepanitiaan karena gue anaknya gak betah di kost, jadi sebisa mungkin gue menyibukkan diri. Lalu, bagaimana kehidupan anak kost dengan uang yang gak banyak? Oke, di sini gue benar-benar belajar bagaimana mengatur keuangan dan nafsu (jajan-jajan), ya walaupun kadang kalap, tapi overall gue survive. Semoga ke depannya bisa surive juga, aamiin.

Dan itu lah perjalanan singkat gue selama gue menelantarkan blog ini. Mungkin untuk tulisan selanjutnya gue bakal mengulas tempat-tempat yang sudah gue datangi, baik itu di Jakarta mau pun Yogya, atau nyeritain beberapa pengalaman gue di sini. Dan mungkin juga ke depannya bakal ada beberapa kata bahasa Prancis  di blog ini (since it's my major), well i hope you guys still enjoy it.
Au revoir y'all!!